GAMBARAN SENI-BUDAYA SECARA UMUM

Pengertian Seni
Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang dipastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata "Sani" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Mungkin saya memaknainya dengan keberangkatan dari seorang/seniaman saat akan membuat karya seni, namun menurut kajian ilmu di eropa mengatakan "ART" (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan.

Saya melihat makna Seni lebih pada nilai makna yang terkandung malah sampai pada kandungan proses pelaksanaan karya hingga menjadi sebuah karya seni. Seni pun tidak melulu selalu mengenai suara, visual dan keindahan. Hal tersebut bisa ditemui, dengan adanya contoh seperti Seni Perang dan Seni Bercocok Tanam yang berkaitan dengan proses "memancing" dan "menunggu" hasil yang tidak selalu hasilnya adalah keindahan, bisa saja berupa teror visual hingga emosi. 

Tentu seni, berkaitan dengan pengolahan dan intensitas perasaan mengenai estetik hingga obsesi yang menyangkut inovasi-estetika-moral dari seorang seniman ketika berseni dalam kaitan trend pada pengaruh masa atau zaman yang berlangsung. Namun kita tidaka usah mempersoalkan makna ini, karena kenyataannya kalau kita memperdebatkan makna yang seperti ini akan semakain memperkeruh suasana kesenian, biarlah orang memilih yang mana terserah mereka. Toh pada dasarnya seni itu proses elemen-elemen dasar untuk pencapaian sebuah keindahan.
  
Pengertian Budaya
Dari hasil pengamatan saya juga sumber-sumber yang saya dapatkan budaya berasal dari kata budi-daya. Sebuah kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal yang menjadi kebiasaan sampai pedoman khalayak banyak.
kebudayaan adalah ekspresi dari suatu kelompok/masyarakat, untuk menciptakan sesuatu yang berasal dari akal budi dan daya, yang bertujuan mempertinggi kehidupan kemanusiaan. faktor dasarnya adalah, tradisi, adat, agama, seni, ilmu pengetahuan tehnologi, ekonomi dan politik.
Yang sudah pasti sesuatu kegiatan yang di wariskan oleh para leluhur, yang punya arti sebenarnya tatanan kehidupan dan sangat sakral mempunyai nilai filosofi kehidupan yg tinggi namun tak lepas baik hukum adat istiadat ataupun aqidah/keimanan setiap suku2nya.
Pengertian Seni Tari
Seni adalah pengalaman dalam bentuk medium indrawi yang menarik dan di tata dengan rapi, yang di wujudkan untuk di komunikasikan dan di renungkan. Seni adalah karya manusia yang dapat menimbulkan rasa senang dalam rohani kita. Menurut Herbert Read “seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang demikian itu memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa indah ini terpenuhi bila kita menemukan kesatuan atau harmoni dari hubungan bentuk-bentuk yang kita amati itu”.
Keindahan adalah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang dan seni adalah keindahan.
Tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki media ungkap atau substansi gerak, dan gerak yang terungkap adalah gerak manusia. Gerak- gerak dalam tari bukanlah gerak realistis atau gerak keseharian, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif.
Gerak ekspresif ialah gerak yang indah, yang bisa menggetarkan perasaan manusia. Gerak yang di stilir mengandung ritme tertentu,yang dapat memberikan kepuasan batin manusia. Gerak yang indah bukan hanya gerak-gerak yang halus saja, tetapi gerak-gerak yang kasar, keras, kuat, penuh dengan tekanan-tekanan, serta gerak anehpun dapat merupakan gerak yang indah. Gerak merupakan elemen pertama dalam tari, maka ritme merupakan elemen kedua yang juga sangat penting dalam tari.
Soedarsono mengetengahkan sebuah definisi “Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang di ungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah. untuk menghasilkan gerak yang indah membutuhkan proses pengolahan atau penggarapan terlebih dahulu, pengolahan unsur keindahannya bersipat stilatif dan distortif.”
  1. Gerak Stilatif yaitu: gerak yang telah mengalami proses pengolaha (penghalusan) yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah. 
  2. Gerak Distortif yaitu: pengolahan gerak melalui proses perombakan dari aslinya dan merupakan salah satu proses stilasi.
Dari hasil pengolahan gerak yang telah mengalami stilasi dan distorsi lahirlah dua jenis gerak tari yaitu, gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi.
  1. Gerak murni : dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian tertentu, yang dipentingkan factor keindahan gerak saja. 
  2. Gerak maknawi : dalam pengolahannya mengandung suatu pengertian atau       maksud tertentu, disamping keindahannya. Gerak maknawi di sebut juga gerak Gesture, bersifat menirukan ( imitative dan mimitif ).
    • Imitatif adalah gerak peniruan dari binatang dan alam.
    • Mimitif adalah gerak peniruan dari gerak-gerik manusia.

Tari merupakan komposisi gerak, berdasarkan bentuknya ada 2 jenis tari yaitu:
  1. Tari Representasional yaitu tari yang menggambarkan sesuatu secara jelas. Tari bersumber pada kehidupan sehari-hari.Contoh: Tari perang, tari tani dll.
    Tari Non Representasional yaitu tari yang tidak menggambarkan sesuatu, menekankan pada keindahan gerak semata.
Keindahan dalam seni tari tidak hanya pada gerak tubuh, untuk keutuhannya memerlukan dukungan seni lain sebagai kelengkapan seperti: busana, rias, property, musik, tata pentas, drama dan sastra. Sehingga seni tari menjadi bentuk seni yang komplek, yang mengandung beberapa macam unsur seni.
1. Tari Tradisional
Tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangannya cukup lama, dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi.
Tari tradisional, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat. Pada jaman feodal di Indonesia dengan munculnya kerajaan Hindu pada sekitar tahun 400 M. Tari yang hidup di kalangan rakyat sesuai dengan kehidupan sosial masyarakatnya, masih sederhana dan banyak berpijak warisan seni tradisional. Faktor alam serta lingkungan dan agama/kepercayaan, sangat berpengaruh terhadap bentuk-bentuk seni tarinya. Sehingga tari tradisional masyarakat sangat beraneka ragam sesuai dengan kondisi rakyatnya, alam dan agama/kepercayaannya.
 2. Tari Kreasi
Yang dimaksud dengan tari kreasi di sini adalah suatu bentuk garapan/karya tari setelah bentuk-bentuk tari tradisi hidup berkembang cukup lama di masyarakat. Bentuk tarian ini bermunculan sebagai ungkapan rasa bebas, mulai ada gejalanya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebebasan ini mendorong pula kreativitas para seniman tari, setelah melihat/merasakan ada perubahan jaman dalam kehidupan masyarakat dan menjadikan motivasi untuk membuat karya-karya baru memenuhi kebutuhan jaman, 
Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

  a.  Tari Kreasi Baru Berpolakan Tradisi
         Yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi,
       baik dalam koreografi, musik, rias, busana, maupun tata teknik pentasnya. 
       Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensi ketradisiannya.

 b.    Tari Kreasi Baru Tidak Berpolakan Tradisi (Non Tradisi)
        Tari Kreasi yang garapannya melepaskan diri pola-pola tradisi baik dalam 
       hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. 
      Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti   
      sama sekali tidak menggunakan nsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih 
       menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarap-nya. 
      Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin 
       “modo” yang berarti baru saja.
Unsur Islam dalam Seni dan Budaya Aceh
Kesenian Aceh pada dasarnya mempunyai ciri yang amat nyata, yaitu Islam didalamnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh Islam yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Aceh, terutama dalam kehidupan masyarakat Aceh masa lampau.
Dalam masyarakat Aceh masa kini ajaran Islam itu tetap dipandang sebagai nilai yang esensial dan masih sangat besar pengaruhnya sekalipun disamping itu pengaruh dari budaya modern mulai besar pula. Dengan kata lain telah terjadi pergeseran. Malah dalam beberapa nilai konflik nilai-nilai dalam masyarakat Aceh sekalipun  nilai-nilai Islam masih tetap dominan.
Mari kita lihat sekilas sejarah mengenai beberapa budaya dan seni Aceh diantara sekian banyak budaya dan seni kebanggaan masyarakat Aceh.
Seudati
Seudati merupakan perpaduan antara seni tari, seni suara, seni sastra, karena selain dari menari, para pelaku juga sekaligus meyakinkan kisah-kisah yang tersusun secara bersajak dan dilagukan dengan berbagai lagu, pada permulaan sejarahnya, seudati itu berfungsi sebagai tari pahlawan yang dilaksanakan untuk melepaskan pasukan tentara yang akan berangkat ke medan juang dalam peperangan melawan musuh,- menyambut pasukan tentara yang pulang dari medan perang, lebih kalau pasukan itu pulang dengan membawa kemenangan, media dakwah, karena dalam kisah yang diucapkan bersajak itu, dapat diselipkan berbagai ajaran yang perlu didakwahkan.
Akan tetapi kemudian oleh karena kesenian tersebut sangat digemari oleh rakyat, maka diadakan juga pada waktu-waktu yang lain, bahkan dikampung-kampung. Akhirnya fungsi berubah menjadi hiburan rakyat dan dipertandingkan dengan pemungutan bayaran. Mula-mula tidak semalam suntuk, akan tetapi waktu pertandingan terjadi berbalas kisah, karena masing-masing tidak mau kalah, maka akhirnya sampai pagi hari, mataharilah yang memisahkan kedua belah pihak, akibatnya semua orang yang menikmati hiburan tersebut terpaksa tidur semalam suntuk, tidak sempat mencari rizki untuk belanja rumah tangga, disamping itu juga lama kelamaan timbul efek samping lainnya, yaitu terjadi perzinaan dan pencurian dikampung-kampung yang bersangkutan dan yang berdekatan, oleh karena itulah ulama Aceh membencinya, malah mengharamkannya, judi haramnya itu, bukan haram zaty, artinya bukan haram seudati atau keseniannya, melainkan haram karena akibat sampingan yang merusak masyarakat, kalau hal ini dapat dihindarkan tidak masalah.
Para pelaku seudati terdiri dari delapan orang penari ditambah satu atau anak seudati yang bagus suaranya, oleh karena para seudati terdiri dari delapan orang maka dinamakan saman berasal dari bahasa Arab yang berarti delapan, dan oleh karena dalam permainan itu diceritakan bermacam-macam terutama sewaktu pertandingan, maka dinamakan ratooh.
Pakaian para penari terdiri dari baju kaos lengan panjang celana panjang berwarna hitam atau putih yang agak genting pada bagian lutut dan kain sarung sutera berlipat dua dililit dipinggang, kemudian disisi plah sebilah rencong, lambang pahlawan Aceh dihulunya diikat denga kain kuning atau hijau, dikepalanya di ikat daster sutera yang dalam bahasa Aceh disebut “tangkulok sutera”.
Oleh karena seudati sangat digemari oleh segenap masyarakat Aceh, maka dalam konferensi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang berlangsung di kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada tahun 1964 dibicarakan juga hukumnya, untuk keperluan itu maka dibentuklah sebuah tim penelaah yang terdiri dari tokoh-tokoh yang bertugas dijawatan agama keresidenan Aceh, akan tetapi karena situasi belum mengizinkan karena masih berlangsungnya perlawanan fisik melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia lagi, tambah pula ada antara anggota tim itu meninggal dunia, maka tim tersebut tidak dapat menyelesaikan tugasnya. Namun dalam rapat-rapat telah terdapat titik terang, asal saja dalam pelaksanaannya dapat dihindari hal-hal yang negatif.
Rencong
Timbul Rencong di Aceh juga karena pengaruh Islam. Banyak simbol-simbol pada rencong yang memperlihatkan unsur Islam didalamnya. Didalam buku RENCONG karangan T. Syamsyuddin dan M. Nur Abas ( 1981:5) dijelaskan arti dari simbol pada rencong sebagai berikut:
  • Gagang Rencong yang melekuk kemudian melebar pada bagian sikunya berupakan aksara arab "BA".
  • Bujuran gagang tempat genggaman merupakan aksara "SIN".
  • Bentuk-bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi pada gagangnya erupakan aksara "MIM". 
  • Lajur-lajur besi pada pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara "LAM". 
  • Ujung-ujung yang runcing dengan datar sebelah atas dan bagian bawah sedikit melekuk ke atas merupakan aksara HA.
Rangkaian dari dari aksara BA, MIM, LAM, dan HA itu mewujudkan kata, dengan demikian jelas bahwa rencong merupakan perwujudan dari ayat al-quran yang dalam bentuk alat yang tajam dijadikan sebagai alat perang guna mempertahankan agama Islam dari rong-rongan orang yang anti Islam.

Unsur Islam juga dapat ditelusuri dari cara membuatnya, untuk membuat sebuah rencong adakalanya dilakukan dengan cara ilmu ghaib yaitu dengan mengurutkan besi atau logam bahan rencong dengan  jari tangan dengan membaca mantra-mantra dari ayat al-quran sehingga ia benar-benar ampuh sebagai senjata.
Inilah sekilas tentang seni dan budaya Aceh yang penuh dengan nilai-nilai religius dan heroik, selama ini banyak daripada generasi Aceh yang tidak mengenal akan seni-budaya nenek moyang mereka, mereka lebih mengenal akan budaya-budaya asing (budaya barat) yang sama sekali tidak cocok dengan kultur kita masyarakat Aceh  ini merupaka sebuah dilema bagi kelestarian budaya yang sangat kita cintai ini, padahal seharusnya kita harus bangga dengan budaya kita itu yang berbeda dengan budaya-budaya lain yang ada di dunia ini.
Semua pihak harus bangkit dan bersatu menyelamatkan seni-budaya kita, semua kita harus mempunyai rasa memiliki dan rasa mencintai terhadapa seni-budaya yang kita miliki, setiap bangsa yang lupa akan budayanya maka bangsa tersebut akan kehilangan jati diri. Mari kita bangkitkan kembali rasa cinta terhadap budaya kita kepada segenap generasi kita sejak dini sebelum semuanya terlambat. Semoga kita dapat belajar dari hal yang semestinya, kenali dan pahamilah seni-budaya kita sebagai mana yang telah di wriskan pada generasi kita sekarang ini.
Semoga dari diskusi ini kita dapat berbagi dalam hal seni-budaya yang masih perlu pengkajian yg lebih dalam.

Wassalam……..

Banda Aceh, 4 November 2010
Ditulis ulang oleh Kaka Zafana dari berbagai sumber